Cara Kerja Sistem Pengapian CDI (Capasitive Discharge Ignition)

Apa itu sistem pengapian CDI? Mungkin sobat sudah sering mendengar istilah pengapian CDI, namun taukah apa itu sebenarnya CDI dan bagaimana cara kerja sistem pengapian CDI? Apa saja komponen sistem pengapian CDI? Dan juga apa perbedannya sistem pengapian CDI dengan sistem pengapian transistor maupun pengapian konvensional? Nah pertanyaan-pertanyaan tersebut akan Guru Otomotif jawab pada artikel ini. CDI adalah kepanjangan dari Capasitive Discharge Ignition. Lalu apa itu pengapian CDI? Sistem pengapian CDI adalah sistem pengapian yang bekerja berdasarkan pembuangan muatan kapasitor.


Konsep kerja sistem pengapian CDI ini berbeda dengan sistem pengapian penyimpanan induktif, bedanya apa? Pada sistem pengapian CDI masih menggunakan koil, namun koil tersebut fungsinya hanya sebagai transformator tegangan tinggi dan bukan untuk penyimpan energi. Dan sebagai penggantinya ada kapasitor yang digunakan untuk menyimpan energi. Pada sistem pengapian CDI, kapasitor diisi dengan tegangan tinggi yaitu sekitar 300 volt sampai dengan 500 volt, dan ketika CDI bekerja (triggered), maka kapasitor akan membuang (discharge) energi ke kumparan primer koil pengapian. Koil tersebut kemudian akan menaikkan tegangan (dari hasil pembuangan muatan kapasitor tadi) menjadi tegangan yang lebih tinggi lagi pada kumparan sekunder untuk menghasilkan percikan bunga api pada busi.

Ketika bekerja, kapasitor pada sistem pengapian CDI ini secara periodik diisi oleh bagian pengisi lalu muatannya dibuang ke kumparan primer koil untuk menghasilkan tegangan tinggi pada kumparan sekunder. Lalu bagaimana prinsip pengisian dan pembuangan muatan kapasitor tersebut? berikut ini Guru Otomotif akan jelaskan.

Prinsip Pengisian dan Pembuangan Muatan Kapasitor

Untuk lebih mudah dalam memahami prinsip pengisian dan pembuangan muatan kapasitor pada sistem pengapian CDI, perhatikan gambar berikut ini:


Pengisian dan pembuangan muatan kapasitor dapat dijelaskan sebagai berikut: Jika posisi saklar menghubungkan terminal 1 dan terminal 2, maka akan terjadi rangkaian tertutup antara sumber tegangan dan kapasitor. Hal ini akan menyebabkan terjadinya aliran arus dari baterai ke kapasitor sehingga kapasitor akan terisi penuh atau memiliki muatan. Dan jika saklar posisinya diganti atau diubah sehingga terminal 1 dan terminal 3 terhubung, maka kapasitor dalam keadaan ini berfungsi sebagai sumber energi dan melepaskan muatannya melalui kumparan primer koil sebagai beban dalam rangkaian tersebut. Ketika kapasitor mengeluarkan arus dengan cepat melalui kumparan, maka energi listrik yang disimpan dalam kapasitor dikonversi menjadi energi dalam bentuk medan magnet yang berekspansi di sekitar kumparan koil. Adanya perubahan medan magnet yang sangat cepat inilah yang kemudian menyebabkan terjadi tegangan induksi pada kumparan sekunder koil. Dan sebagai pengganti saklar, pada sistem pengapian CDI digunakan thyristor yang bekerja ON dan OFF secara teratur sesuai dengan saat pengapian yang telah ditentukan.

Perbedaan Sistem Pengapian CDI dengan Sistem Pengapian Transistor dan Konvensional

Ada perbedaan yang sangat penting antara sistem pengapian CDI dengan sistem pengapian induktif (selain CDI, yaitu sistem pengapian konvensional dan sistem pengapian transistor). Pada sistem pengapian induktif, tegangan tinggi pada koil dihasilkan ketika arus pada kumparan primer diputuskan oleh kontak pemutus (platina maupun transistor), sedangkan pada sistem pengapian CDI tegangan tinggi pada koil dihasilkan ketika arus dari pembuatan muatan kapasitor mengalir ke kumparan primer koil dengan sangat cepat. Waktu yang diperlukan oleh tegangan tinggi untuk mencapai tegangan tertingginya dinamakan rise time. Dan pada sistem pengapian CDI, rise time sangat singkat, yaitu sekitar 0,1 sampai dengan 0,3 ms (mili second). Hal ini sangat menguntungkan karena percikan api di busi tetap terjadi walaupun businya kotor.

Apa sajakah komponen sistem pengapian CDI? Baca artikel kelanjutannya di komponen-komponen sistem pengapian CDI dan fungsinya

Label: