Ciri Razia atau Operasi Polisi yang Legal

Pasti sobat sudah pernah kan ya merasakan yang namanya operasi polisi, bukan operasi bedah kedokteran loh, tapi operasi atau razia kendaraan dari polisi. Atau bahkan pernah melakukan pelanggaran yang hingga akhirnya ditilang dan denda puluhan ribu bahkan ratusan ribu?
Razia atau operasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian itu sebenarnya bertujuan agar pengendara mentaati segala peraturan dalam berkendara dan juga berlalu lintas, hal ini untuk mengurangi angka kecelakaan dan untuk keselamatan diri sendiri bahkan orang lain ketika berkendara.


Namun, tidak semua operasi atau razia yang dilakukan oleh polisi itu adalah legal, terkadang ada oknum polisi yang melakukan operasi atau razia secara ilegal. Padahal sebagaimana kita sebagai pengemudi atau pengendara diatur oleh undang-undang, maka polisi pun juga diatur oleh undang-undang dalam melakukan pekerjaannya.

Dasar Hukum Razia atau Operasi

Adapun dasar hukum atau peraturan tentang razia atau operasi telah diatur dalam peraturan pemerintah nomor 42 Tahun 1993 Pasal 13 bahwa razia yang legal harus ada surat tugas. Jadi sebelum menunjukkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), polisi harus dapat menunjukkan surat tugas. 


Dan jangan mau ditilang oleh polisi yang tidak bertanggung jawab jika mengetahui ada anggota Polri ataupun PNS polri yang melakukan tindakan yang salah ketika merazia namun tidak menunjukkan surat tugas, sobat dapat mencatat nama, pangkat dan juga kesatuan anggota untuk dilaporkan ke Divisi Propam Polri. Kemudian peraturan kedua yaitu Pasal 15 yang menyebutkan bahwa: Razia yang sah harus dilengkapi dengan papan tilang yang ditaruh atau diletakkan minimal 100 meter sebelum lokasi adanya razia atau operasi.

Ciri Razia atau Operasi yang Legal

Di razia yang legal juga harus dilengkapi papan tilang dan papan tilang tersebut diletakkan sekurang-kurangnya 100 meter sebelum lokasi. Sehingga dari jarak 100 meter tersebut kita seharusnya sudah mengetahui akan adanya operasi atau razia polisi.


Dalam razia yang legal, harus ada surat perintah tugas dan itu ditanda tangani oleh kepala satuan. Terkait dengan warna itu bukan masalah. Untuk mengetahui asli atau tidaknya surat tugas tersebut adalah berdasarkan tanda tangan Kasat Lantas, Kasat Reskrim atau Kapolres. Adapun surat perintah tugas itu memuat sekurang-kurangnya:
  1. Alasan serta jenis razia
  2. Waktu razia
  3. Tempat razia
  4. Penanggung jawab dalam razia
  5. Daftar petugas razia
  6. Daftar pejabat penyidik yang ditugaskan selama adanya razia

Dan jika razia tersebut dilakukan pada malam hari, maka selain adanya papan tilang dan surat tugas, juga pihak kepolisian wajib memasang lampu isyarat bercahaya kuning terang. Seperti pada gambar di bawah ini.


Operasi atau razia lalu lintas yang digelar polisi juga harus dipimpin oleh seorang perwira dan minimal berpangkat inspektur dua (IPDA) dan bukan Bintara yang berpangkat Bripda atau Briptu.
Cara untuk membedakan Perwira dan Bintara adalah jika Perwira maka pangkatnya minimal Ipda seperti pada gambar di bawah ini.


Sedangkan jika Bintara pangkatnya minimal Bripda seperti pada gambar di bawah ini.



Harapannya dengan mengetahui ini, baik pengemudi atau pengendara maupun polisi dapat sama-sama dalam mentaati segala peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah. Dan perlu sobat ketahui juga bahwa sanksi dari melakukan peraturan tersebut sangat mahal, sobat dapat membaca artikel biaya tilang terbaru di Indonesia tahun 2016 supaya tahu berapa biaya tilang terbaru.  Demikianlah artikel tentang ciri razia atau operasi polisi yang legal. Bagaimana tanggapan sobat? Silahkan tulis dikomentar yaa.. sharing tentang pengalaman razia lalu lintas juga boleh. Dan jangan lupa sebarkan artikel ini.

Label: