Cara kerja sistem pengisian sepeda motor AC

Pada artikel sebelumnya guru otomotif sudah membahas tentang cara kerja dari sisem pengisian sepeda motor dengan generator DC, pada postingan kali ini guru otomotif akan membahas sistem pengisian sepeda motor yang biasa digunakan pada sepeda motor pada umumnya, yaitu generator AC. Sistem pengisian sepeda motor generator AC ada dua, yaitu generator AC dengan flywheel magnet atau alternator sederhana dan alternator AC 3 phase. 


Generator AC dengan flywheel magnet

Generator AC dengan flywheel magnet atau yang sering disebut sebagai alternator sederhana banyak digunakan dalam sistem pengisian sepeda motor kecil. Flywheel magnet terdiri dari stator dan rotor yang memiliki magnet permanen. Stator diikat dan menempel pada salah satu sisi bak engkol. Dalam stator terdapat kumparan pembangkit listrik. Contoh dari konstruksi generator flywheel bisa sobat lihat pada gambar dibawah ini.
Ada beberapa tipe rangkaian dari sistem pengisian sepeda motor generator AC dengan flywheel magnet ini, diantaranya

Perhatikan rangkaian sistem pengisian dengan generator AC berikut ini:

Penjelasan dari gambar diatas adalah sebagai berikut: regulator akan bekerja untuk mengatur besarnya arus dan tegangan pengisian yang masuk ke baterai atau aki dan juga bekerja untuk mengatur tegangan yang masuk ke lampu agar mendekati tegangan yang konstan, sehingga lampu tidak cenderung selalu berkedip. Pengaturan arus dan tegangan tersebut berdasarkan peran utama ZD atau zener dioda dan thyristor (SCR). Jika tegangan dalam sistem pengisian telah mencapai tegangan tembus atau breakdown voltage, maka tegangan yang berlebihan akan dialirkan menuju massa. Zener Dioda (ZD) yang dipasang pada umumnya mempunyai tegangan tembus sebesar 14 Volt.

Cara kerja sistem pengisian generator AC

Cara kerja sistem pengisian generator AC yaitu apabila arus AC yang dihasilkan alternator di searahkan oleh rectifier dioda. Maka arus DC mengalir untuk mengisi baterai. Arus DC juga mengalir menuju voltage regulator apabila saklar penerangan dihubungkan. Pada kondisi siang hari misalnya, arus listrik yang dihasilkan menjadi lebih sedikit karena tidak semua kumparan atau coil pada alternator digunakan.

Ketika tegangan dalam baterai atau aki masih belum mencapai tegangan maksimum yang ditentukan, ZD masih belum aktif atau dalam kondisi off sehingga SCR juga belum bekerja. Setelah tegangan yang dihasilkan oleh sistem pengisian menjadi naik seiring dengan naiknya putaran mesin, kemudian telah mencapai tegangan tembus Zener Dioda, maka Zener Dioda akan bekerja dari arah kebalikannya yaitu dari katoda ke anoda menuju gate pada SCR. Lalu SCR akan bekerja dalam mengalirkan arus ke ground atau massa. Pada saat ini proses pengisian ke baterai terhenti. Saat tegangan baterai kembali menurun akibat konsumsi arus listrik oleh sistem kelistrikan seperti misalnya untuk sistem penerangan motor dan telah berada di bawah tegangan tembus Zener Dioda, maka Zener Dioda kembali bersifat sebagai dioda biasa. SCR akan menjadi mati (off) kembali sehingga tidak ada arus yang terbuang ke ground atau massa. Pengisian arus listrik ke baterai atau aki menjadi normal seperti biasa. Proses tadi terjadi berulang-ulang sehingga pengisian baterai akan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kendaraan. Inilah yang sebut sebagai proses pengaturan tegangan pada sistem pengisian yang dilakukan oleh voltage regulator.

Alternator AC 3 phase

Perkembangan terakhir dari alternator yang digunakan pada sepeda motor adalah dengan merubah alternator dari satu phase menjadi 3 phase atau 3 gelombang. Alternator 3 phase pada umumnya dipakai oleh sepeda motor ukuran menengah ke atas yang kebanyakan telah menggunakan sistem starter listrik. Keluaran listrik dari alternator membentuk gelombang yang saling menyusul, sehingga keluarannya bisa lebih stabil. Dengan demikian keluaran listriknya menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan alternator satu phase.

Salah satu tipe dari alternator 3 phase adalah alternator tipe magnet permanen, altrnator magnet permanen terdiri dari magnet permanen, stator yang membentuk cincin dengan kumparan pembangkit dan disusun secara radial pada ujung luarnya. Rotor dengan kutub magnetnya kaitkan di dalamnya. Tipe lainnya adalah yang menggunakan elektromagnet seperti alternator pada mobil.

Komponen alternator tipe elektromagnetik 


Pengaturan besarnya tegangan dan penyearahan arus pada sistem pengisian alternator 3 phase prinsipnya hampir sama dengan sistem pengisian alternator satu phase seperti yang dijelaskan di atas. Hanya saja dalam alternator 3 phase disamping menggunakan voltage regulator secara elektronik juga menggunakan transistor dan zener diode (ZD), juga ada yang menggunakan voltage regulator (pengaturan tegangan) mekanik atau menggunakan contact poin yang biasa kita kenal dengan platina.

Label: