Cara Kerja Sistem Pengapian Full Elektronik

Sistem pengapian pada motor bensin berfungsi untuk mensuplai arus tegangan tinggi ke busi agar busi bisa memercikkan bunga api guna proses pembakaran campuran bahan bakar dan udara. Pada artikel sebelumnya GuruOtomotif sudah menjelaskan salah satu jenis sistem pengapian pada motor bensin, yaitu sistem pengapian semi elektronik. Nah pada artikel kali ini Guru Otomotif akan membahas cara kerja sistem pengapian full elektronik. Dengan mengetahui kedua cara kerja antara sistem pengapian semi elektronik dan sistem pengapian full elektronik maka sobat dapat menganalis keduanya, walaupun keduanya sama-sama mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kita pelajari dulu apa itu sistem pengapian elektrik dan bagaimana cara kerjanya.

Sistem pengapian full elektronik merupakan pengembangan dari sistem pengapian semi eletkronik atau semi transistor. Pada sistem pengapian semi elektronik sinyal untuk memicu kerja transistor adalah bersumber dari kontak pemutus, sedangkan pada sistem pengapian full elektronik sinyal pemicu kerja transistor berasal dari generator sinyal yang menghasilkan tegangan ON dan OFF. Gambar dibawah ini adalah bentuk sederhana dari sistem pengapian full elektronik.


Komponen Sistem Pengapian Full Eletronik
Komponen-komponen penting pada sistem pengapian full elektronik adalah
  1. Baterai
  2. Kunci kontak
  3. Transistor
  4. Koil
  5. Penghasil pulsa (generator pulsa)
  6. Busi
Transistor berfungsi untuk memutus arus primer pada koil, transistor akan bekerja ON dan OFF jika ada sinyal atau pulsa tegangan yang mengalir ke kaki basis B transistor. Sehingga yang menentukan transistor itu bekerja atau tidak adalah sinyal dari generator pulsa.

Cara Kerja Sistem Pengapian Full Elektronik

Silahkan sobat lihat gambar dibawah ini supaya lebih mudah memahami cara kerjanya sistem pengapian full elektronik.

Ketika kunci kontak pada posisi ON dan generator pulsa menghasilkan sinyal tegangan, maka arus (i) dari generator pulsa mengalir menuju kaki basis B transistor, ke kaki emotor E selanjutnya ke massa. Karena ada arus masuk ke basis B maka transistor menjadi ON sehingga kaki kolektor C dan emitor E terhubung. Akibat dari aktifnya transistor ini maka arus yang besar mengalir dari baterai ke kumparan primer koil, kemudian ke kaki kolektor C, lalu ke kaki emitor E dan selanjutnya ke massa. Pola aliran arus pada kumparan primer digambarkan di bagian bawah koil di gambar diatas. Aliran arus pada kumparan primer koil ini menyebabkan terbentuknya medan magnet pada koil.

Sinyal yang dihasilkan oleh generator pulsa berupa sinyal ON dan OFF. Ketika ada sinyal On (terdapat arus) pada kaki basis B seperti apda gambar diatas, maka transistor ON. Sedangkan jika sinyal OFF (tidak ada arus mengalir) maka transistor OFF. Perhatikan gambar dibawah ini.

Jika transistor OFF maka arus yang tadinya mengalir pada kumparan primer koil akan menjadi terhenti. Terhentinya arus dengan cepat menyebabkan hilangnya medan magnet pada koil dengan sangat cepat pula. Perubahan garis-garis gaya magnet yang cepat ini mengakibatkan terjadinya tegangan induksi yang sangat tinggi pada kumparan sekunder koil. Tegangan tinggi ini disalurkan ke busi sehingga terjadi percikan bunga api pada elektroda busi.

Itulah cara kerja dari sistem pengapian full elektronik, pada tipe ini tidak lagi memakai kontak pemutus seperti yang ada pada sistem pengapian semi elektronik. Sobat sudah bisa membedakan to cara kerjanya? Mudah-mudahan bisa. Disamping kedua tipe sistem pengapian ini, masih ada lagi sistem pengapian yang  lain, yaitu sistem pengapian CDI. Untuk sistem pengapian CDI akan kami bahas pada artikel selanjutnya insyaAllah. Demikian semoga bermanfaat. Silahkan dishare atau komentar. Salam otomotif!

Label: